Puji dan
syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan limpahan-Nya kami dapat
menyelesaikan laporan yang berjudul “Kecepatan Cahaya”. Laporan ini disusun sebagai
tugas yang diberikan oleh asisten mata kuliah "Fisika Modern".
Laporan ini disusun agar pembaca
dapat memperluas wawasan mengenai kecepatan cahaya. Kami
menyadari bahwa penulisan laporan ini jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kami sangat berharap ketidaksempurnaan ini dapat
disempurnakan dengan memberikan masukan, saran, dan perbaikan
dari berbagai pihak guna lebih menyempurnakan penulisan laporan ini. Semoga
laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Palu, 21 Desember 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Alat dan Bahan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
3.2 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
3.3 Prosedur Kerja
BAB
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.2 Analisa Data
4.3 Pembahasan
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cahaya memang menarik untuk
dipelajari. Sejak berabad-abad yang lalu banyak ahli yang tertarik untuk
meneliti cahaya. Sebagai contoh adalah Newton dan Maxwell. Teori Newton tentang
cahaya terkenal dengan teori partikel cahaya sedangkan teori Maxwell terkenal
dengan gelombang elektromagnetik. Fisikawan lain yang juga tertarik akan cahaya
adalah Huygens, Thomas Young, dan Fresnell. Tokoh-tokoh fisika ini cukup banyak
memberikan sumbangan terhadap perkembangan teori tentang cahaya.
Cahaya
merupakan radiasi gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi mata manusia.
Karena itu, cahaya selain memiliki sifat-sifat gelombang secara umum misal
dispersi, interferensi, difraksi, dan polarisasi, juga memiliki sifat- sifat
gelombang elektromagnetik, yaitu dapat merambat melalui ruang hampa.
Sejauh ini ilmuwan belum menemukan sesuatu yang kecepatannya
bisa melebihi kecepatan cahaya. Tapi apa itu kecepatan cahaya?. Kecepatan
cahaya merupakan sebuah konstanta yang disimbolkan dengan huruf c,
singkatan dari celeritas (yang dirujuk dari dari bahasa
Latin) yang berarti "kecepatan". Kecepatan cahaya dalam sebuah ruang
hampa udara didefinisikan saat ini pada 299.792.458 m/s. Cahaya juga
memiliki sifat sebagai partikel yang biasa disebut foton. Karena itulah cahaya
bisa juga dipandang sebagai kumpulan banyak partikel yang tidak bermassa yang
bergerak dengan kecepatan 3×108 m/s.
1.2 Tujuan
1. Mampu
mempraktikkan cara mengukur kecepatan cahaya dengan menggunakan Pasco
2. Menghitung
besarnya kecepatan cahaya (c)
1.3 Alat dan Bahan
1. Laser
Hene
2. Cermin
tetap
3. Lensa
48 mm
4. Cermin
putar
5. Lensa
127 mm FL
6. Komponen
jig 2 buah
7. Mikroskop
pengukur
8. Polisator
9. Bangku
optik 1 m
10. Pengangan
lensa 2 buah
11. Bangku
laser
12. High
speed rotasi
13. Pengatur
dudukan laser
14. Mistar
100 cm
15. Adaptor
laser
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
Cahaya adalah nama yang diberikan
manusia pada radiasi yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya merupakan sejenis energi
berbentuk gelombang elekromagnetik
yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm. Pada bidang
fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang
kasat mata maupun yang tidak. Selain itu, cahaya adalah paket partikel yang
disebut foton. Kedua definisi tersebut merupakan sifat yang ditunjukkan cahaya
secara bersamaan sehingga disebut "dualisme gelombang-partikel". Jadi
sebenarnya cahaya itu sendiri merupakan salah satu bentuk energi. Energi ini
bergerak bersama gelombang itu sendiri.
Gelombang elektromagnetik dapat
digambarkan sebagai dua buah gelombang yang merambat secara transversal pada
dua buah bidang tegak lurus yaitu medan magnetik dan medan listrik. Merambatnya
gelombang magnet akan mendorong gelombang listrik, dan sebaliknya, saat
merambat, gelombang listrik akan mendorong gelombang magnet
Cahaya dibagi menjadi dua jenis
yaitu : cahaya polikromatik dan cahaya monokromatik. Cahaya polikromatik adalah cahaya yang
terdiri atas banyak warna dan panjang gelombang. Contoh cahaya polikromatik
adalah cahaya putih. Sedangkan cahaya
monokromatik adalah cahaya yang hanya terdiri atas satu warna dan satu
panjang gelombang. Contoh cahaya monokromatik adalah cahaya merah dan ungu.
Contoh konkrit tentang kedua jenis
cahaya di atas yakni, peristiwa pembiasan warna pelangi. Peristiwa terjadinya
pelangi merupakan gejala dispersi cahaya. Gejala dispersi cahaya adalah gejala
peruraian cahaya putih (polikromatik) menjadi cahaya berwarna-warni
(monokromatik). Di depan telah disinggung bahwa cahaya putih merupakan cahaya
polikromatik, artinya cahaya yang terdiri atas banyak warna dan panjang
gelombang. Jika cahaya putih diarahkan ke prisma maka cahaya putih akan terurai
menjadi cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.
Cahaya-cahaya ini memiliki panjang gelombang yang berbeda.
Kelajuan cahaya adalah sebuah konstanta
fisika
yang disimbolkan dengan huruf c, singkatan dari celeritas (yang
dirujuk dari dari bahasa Latin) yang berarti "kecepatan".
Konstanta ini sangat penting dalam fisika dan bernilai 299.792.45 m/s.. Nilai
ini merupakan nilai eksak disebabkan oleh panjang meter didefinisikan
berdasarkan konstanta kelajuan cahaya. Kelajuan ini merupakan kelajuan maksimum
yang dapat dilajui oleh segala bentuk energi, materi, dan informasi dalam alam
semesta. Kelajuan ini merupakan kelajuan segala partikel tak bermassa dan medan
fisika, termasuk radiasi elektromagnetik dalam vakum.
Kelajuan ini pula menurut teori modern adalah kelajuan gravitasi
(kelajuan dari gelombang gravitasi).
Partikel-partikel maupun gelombang-gelombang ini bergerak pada kelajuan c
tanpa tergantung pada sumber gerak maupun kerangka acuan inersial pengamat. Dalam
teori relativitas, c saling
berkaitan dengan ruang dan waktu.
Konstanta ini muncul pula pada persamaan fisika kesetaraan massa-energi
E = mc2.
Kelajuan cahaya yang merambat melalui bahan-bahan transparan
seperti gelas ataupun udara lebih lambat dari c. Rasio antara c
dengan kecepatan v (kecepatan rambat cahaya dalam suatu materi)
disebut sebagai indeks refraksi n material tersebut (n = c / v).
Sebagai contohnya, indeks refraksi gelas umumnya berkisar sekitar 1,5, berarti
bahwa cahaya dalam gelas bergerak pada kelajuan c/1,5 ≈
200.000 km/s. indeks refraksi udara untuk cahaya tampak adalah sekitar 1,0003,
sehingga kelajuan cahaya dalam udara adalah sekitar 90 km/s lebih lambat
daripada c.
Pada tahun 1864, James
Clerk Maxwell telah mengusulkan bahwa cahaya terdiri dari gelombang
elektromagnetik, dengan persamaan gerak mereka sendiri. Persamaan ini
menentukan nilai tepat untuk kecepatan cahaya adalah 186.282 mil per detik
(sekitar 670.000.000 mil per jam). Jika, seperti pendapat Einstein, persamaan
ini adalah sama dalam semua kerangka acuan yang bergerak seragam, maka
kecepatan cahaya harus sama dalam semua kerangka tersebut.
Dengan kata lain, bagaimanapun cepat
Anda bergerak Anda akan selalu mengukur kecepatan cahaya pada 186.282
mil per detik seperti yang telah ditemukan Michelson dan Morley. Bahkan jika
Anda adalah melakukan perjalanan di 186.281 mil per detik, cahaya tidak akan
hanya berkecepatan 1 satu mil per detik lebih cepat; tapi ia masih akan
membesar dengan kecepatan 186.282 mil per detik. Anda tidak akan menyamai
kecepatan cahaya bahkan pada jumlah terkecil.
Relativitas ruang dan waktu menyatakan Bahwa kecepatan
cahaya adalah sama untuk semua pengamat, seberapa pun cepat mereka bergerak,
adalah cukup aneh, tetapi ini bahkan lebih aneh lagi terhadap pengertian kita
tentang ruang dan waktu. Persamaan Einstein tentang gerak memprediksi bahwa jam
yang bergerak akan berjalan lebih lambat dari jam yang diam. Pada kecepatan
yang biasa kita temui, perbedaan ini diabaikan. Tapi ketika kita mendekati
kecepatan cahaya efeknya menjadi sangat terlihat. Jika Anda melakukan
perjalanan melewati saya pada 80 persen kecepatan cahaya, saya akan mengamati
bahwa jam Anda berjalan sepertiga kecepatan saya. Perlambatan ini berlaku tidak
hanya untuk waktu, tetapi untuk semua proses fisik, untuk semua proses kimia,
dan untuk semua proses biologis. Seluruh dunia Anda tampaknya berjalan lebih
lambat dari saya. Waktu itu sendiri berjalan lebih lambat.
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian murni. penelitian murni diarahkan pada pengujian teori dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa menghubungkan hasilnya dengan kepentingan praktikum. Penelitian ini memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan dan pengujian teori- teori. Bertolak dari suatu teori, penelitian dasar diarahkan untuk mengetahui,
menjelaskan, dan memprediksi fenomena- fenomena alam.
3.2 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Tempat : Laboratorium Fisika Modern
Waktu : Rabu, 16 Desember 2015 (jam ke 3-4)
3.3 Prosedur Kerja
- Menyiapkan alat dan bahan.
- Merangkai
alat seperti pada gambar di bawah ini.
- Menempatkan bangku optik pada bidang yang datar.
- Memasang laser pada dudukan laser.
- Meletakkan cermin putar pada ujung bangku optik, dimana bagian depan sejajar 17 cm dengan dudukan optik.
- Memasang jig pertama di depan laser dan jig kedua di depan cermin putar.
- Menghidupkan laser.
- Menyesuaikan sinar laser, sehingga sinar laser dapat menembus lubang pada jig pertama yang berada di depan laser.
- Menyesuaikan sinar laser, sehingga sinar laser dari jig pertama dapat menembus lubang pada jig kedua dan mengenai cermin putar.
- Mengamati pantulan sinar laser dari kaca putar, kemudian menyesuaikan pantulan sinar laser sehingga menembus kembali jig pertama dan kedua, dengan cara memutar kaca putar.
- Melepaskan keselarasan jig kedua dan jig pertama.
- Memasang lensa pertama pada dudukan optik di depan laser (L1).
- Memasang lensa kedua pada dudukan optik di depan cermin putar (L2).
- Memasang mikroskop pengukur pada dudukan optik, di antara lensa pertama dan lensa kedua, sehingga terdapat bayangan sinar di samping laser.
- Memasang cermin tetap di samping laser sekitar 120.
- Menghidupkan high speed cermin putar dengan CW sebesar 600 rev/sec, kemudian mengatur sinar laser agar mengenai lensa.
- Menggeser L2 secara bolak-balik untuk memfokuskan sinar ke cermin putar.
- Mengatur keselarasan cermin tetap dengan memutar sekrup pada cermin tetap sehingga sinar dapat di pantulkan kembali ke cermin putar.
- Mengatur tabung mikroskop dengan memutar mikrometer pada tabung, agar terlihat titik hitam pada tabung dapat diamati.
- Membaca penunjukan micrometer pada tabung sebagai S’CW.
- Mengubah posisi CW menjadi CCW sebesar 1000 rev/sec
- Mengatur kembali mikrometer sekrup sampai titik hitam pada mikroskop kembali terlihat.
- Membaca penunjukan micrometer pada tabung sebagai S’CCW.
- Mematikan high speed cermin putar.
- Mengukur jarak antara L1 dan L2 sebagai A, kemudian mengukur jarak L2 dengan cermin putar sebagai B, mengukur jarak antara cermin putar dan cermin tetap sebagai D.
- Mencatat
hasil pengamatan pada tabel pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pengamatan
c
|
B
(m)
|
D
(m)
|
CW
(rev/sec)
|
CCW
(rev/sec)
|
S’ CW
(rev/sec)
|
S’ CCW
(rev/sec)
|
0,31
|
0,48
|
1,5
|
600
|
1000
|
10,68 x10-3
|
10,14 x10-3
|
Keterangan:
A = jarak antara L1 (lensa 1)
dengan L2 (lensa 2)
B = jarak antara L2 (lensa 2)
dengan MR (cermin putar)
D = jarak antara MR(cermin
putar) dengan MF (cermin tetap)
NST mistar = 0,1 cm =
NST mikroskop pengatur = 0,01 mm =
4.2 Analisa Data
1. Perhitungan Umum

2. Perhitungan Ralat
1. Perhitungan Umum
2. Perhitungan Ralat
4.3 Pembahasan
Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk
gelombang elekromagnetik yang bisa dilihat dengan mata dan gelombang ini
tentunya membawa energi. Jadi sebenarnya cahaya itu sendiri merupakan salah
satu bentuk energi. Energi ini bergerak bersama gelombang itu sendiri. Cahaya juga
memiliki sifat sebagai partikel yang biasa disebut foton. Karena itulah cahaya
bisa juga dipandang sebagai kumpulan banyak partikel yang tidak bermassa
yang bergerak dengan kecepatan 3×108 m/s.
Pada percobaan ini yang pertama kita
lakukan adalah menyelaraskan sinar yang di tembakan oleh laser yang melewati
dua komponen jig kemudian sinar masuk ke cermin putar dan kita memantulkan
kembali dengan mengatur cermin putar agar sinar laser kembali ke laser.
Kemudian setelah sinar laser telah selaras
atau segaris maka perlakuan yang selanjutnya adalah memasang dua buah lensa
pada bangku laser dan juga mikroskop pengukur di antara dua lensa tadi setalah
itu kita mengamati pola titik gelap terang pada mikroskop pengukur dengan
menyalakan Basic speed of light apparatus pada kecepatan cermin putar 600
ref/sec dan 1000 ref/sec.Kemudian
mengatur jarak pada dua buah lensa dari mikroskop pengukur dan mengatur
micrometer dan cermin putar pada mikroskop agar pola titik gelap terang dapat
kita lihat.Tetapi pada percobaan kali ini pola gelap terang itu tidak terlihat
pada microskop meskipun kita telah melakukan percobaan ini berulang kali.
Sehingga kita tidak memperoleh data dari percobaan yang kami lakukan dan hanya mengambil data hasil percobaan.
Berdasarkan
data yang diperoleh didapatkan kecepatan cahaya sebesar
dengan persentase kesalahan dari literatur (
)
sebesar
sedangkan pada persentare ketidakpastian
relatif sebesar
.
Persentase kesalahan tersebut menunjukkan bahwa nilai kecepatan cahaya yang
diperoleh sudah mendekati dari kecepatan cahaya pada literatur sedangkan ktpr
menunjukkan persentase kesalahan dalam melakukan pengamatan dan pengukuran.
Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka
diperolah perbedaan antara nilai kecepatan teori dan nilai kecepatan hasil
eksperiman. Perbedaan ini disebabkan oleh
beberapa faktor seperti ruangan yang kurang sesuai untuk pengambilan data,
banyaknya gangguan yang tidak diinginkan, seperti keterbatasan dalam hal pengambilan data
karena disebabkan waktu yang diberikan terlalu sedikit oleh pihak kampus, serta
banyaknya orang yang lalu lalang ketika proses pengambian data dilakukan,
dimana kesemuanya tersebut mempengaruhi keakuratan data.
Selain itu
faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil eksperimen adalah Tempat penyusunan
alat tidak merata, Tidak sejajarnya bangku optik, Sinar laser yang keluar tidak
tegak lurus terhadap pusat cermin dan Kurang tepat ketika memantulkan cahaya
dari Fm ke Rm untuk mengembalikannya lagi ke sumber cahaya
Pada
percobaan ini alat yang digunakan kurang efektif karena sulitnya memperoleh
titik hitam dalam miskroskop serta sulit terpantulnya sinar laser kembali ke
dalam lubang sinar laser. Selain faktor tersebut, kami (praktikan) juga belum
memahami sepenuhnya prinsip kerja dari alat pasco ini sehingga hasil praktikum
tidak memenuhi literatur kecepatan cahaya yang ada.
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.
Cahaya menurut teori gelombang merupakan
gelombang elektromagnetik tetapi menurut teori kuantum, cahaya merupakan paket
paket energi yang disebut foton.
2.
Prinsip
kerja dalam percobaan ini adalah meletakkan laser pada bangku laser dan
meletakkan mikroskop pengukur di antara dua lensa dan cermin berputar. Ketika
laser dinyalakn maka sinar laser menembus lensa dan dan terpantul kembali masuk
ke dalam sumber sinar laser sehingga segaris dan diperoleh cahaya yang berada
pada preparat mikroskop. Dari mikroskop tersebut mengamati titik gelap dengan
mengatur pemutar mikroskop ketika Basic speed of light apparatus dinyalakan pada kecepatan cermin
putar 600 ref/sec dan 1000 ref/sec.
3.
Akan tetapi pada percobaan yang kami
lakukan yaitu penentuan kecepatan cahaya kami tidak menemukan pola terang gelap
pada microskop yang sebagai mana pada literature sehingga kami tidak memperoleh
data. Jadi kami hanya mengambil data dari kelompok lain yang berhasil melakukan
percobaan ini.
4.
Untuk menghitung besarnya kecepatan
cahaya (c) dapat digunakan persamaan berikut.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan atau praktikum
disesuaikan dengan materi perkuliahan, karena fakta dalam lapangan lain materi
yang disampaikan oleh dosen lain pula yang dipraktekkan. Sehingga mahasiswa
kurang mengetahui tentang materi yang dipraktekkan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2013.Eksperimen Kecepatan Cahaya. http://nugraharomi.blogspot.sg/2013/10/eksperiemen-kecepatan-cahaya.html (diakses 21 Desember 2015 19:20 WITA)
Anonim.2013.Laju Cahaya. http://id.wikipedia.org/wiki/Laju_cahaya (diakses 21 Desember 2015 19:00 WITA)
Beiser
Arthur.1987.Konsep Fisika Modern Edisi ke
Empat. Erlangga:Jakarta
Tim
Penyusun.2015.Penuntun Praktikum Fisika
Modern. Palu:Universitas Tadulako
ka wiwik S'CW dgn S'CWW Itu satuannya rev/sekon atau mm ??
BalasHapus